Kamis, 28 Januari 2016

Miniatur Indonesia : Umat Lima Agama Hidup Rukun Sejak Puluhan Tahun

 
 
Mengunjungi Miniatur Indonesia, Kecamatan Halong Kabupaten Balangan
Umat Lima Agama Hidup Rukun Sejak Puluhan Tahun
Kecamatan Halong Kabupaten Balangan di kalangan masyarakat luas dikenal sebagai miniatur Indonesia, karena memiliki pesona yang luar biasa.
WAHYUDI, Halong.
KEBERAGAMAN masyarakat dari suku dan agama berbeda yang bermukim di Kecamatan Halong sejak lama, menjadi salah satu alasan dikenalnya Halong sebagai miniatur Indonesia. 
Berjarak sekitar 45 KM dari ibukota Balangan, Paringin Kota, dengan kondisi jalan yang mulus, untuk mencapai Kecamatan Halong hanya diperlukan waktu kurang dari satu jam.
Setidaknya ada lima umat beragama yang hidup berdampingan, rukun dan saling membantu di kecamatan yang memiliki penduduk terbanyak dibanding kecamatan lainnya di Balangan tersebut, di antaranya yaitu Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Budha.
Kehidupan Umat beragama di Halong sangat rukun dan terbina dengan baik sejak puluhan tahun silam, kerukunan itu tersirat dalam kehidupan sehari-hari serta terpola dalam sistem sosial budaya masyarakatnya.
Hal itu diyakini terjalin karena masyarakat Halong mempunyai ikatan suku yang kuat juga karena memiliki latar belakang historis serta garis keturunan yang sama.
Menariknya, setiap desa di Kecamatan Halong didominasi oleh umat beragama tertentu, seperti Desa Kapul yang mendominasi adalah agama Budha, Desa Liyu penduduknya merupakan pemeluk agama Hindu, Desa Halong mayoritas Islam sedangkan Katolik dan Protestan yang merupakan umat minoritas dapat ditemui di beberapa desa.
Pendeta GKE Protestan Halong, Damayanto mengungkapkan, meskipun merupakan minoritas, namun pihaknya tidak pernah merasa dikucilkan oleh umat beragama yang lainnya.
"Ini sudah terjalin selama puluhan tahun. Toleransi umat beragama di sini sangat baik, sejauh ini tidak ada masalah sama sekali yang berkaitan dengan agama," ujarnya.
Berdasarkan keterangan dari masyarakat sekitar, masuknya masing-masing agama dengan metode dan tahun yang berbeda. Agama Islam sendiri merupakan agama tertua yang masuk di kecamatan daerah lereng Meratus ini, kemudian disusul Kristen Protestan sekitar tahun 1930, Katolik pada sekitar tahun 1980-an dan Budha yang mulai berkembang pesat di tahun 1986 setelah dibangun Vihara Damasekha di Desa Kapul.
Menurut salah satu tokoh agama Hindu, Riansyah, Hindu merupakan agama termuda yang masuk di Halong, yaitu sekitar tahun 1994. Bahkan rumah ibadahnya pun baru dibangun pada tahun 2000, yakni Pura Jagatnatha Berjalin Jaya.
Masuknya agama Hindu kata dia berawal dari pembuatan Kartu Tanda Penduduk karena harus mencantumkan agama, sementara selama ini dia dan warga lainnya tidak mengenal agama dan hanya memiliki kepercayaan yaitu Kaharingan.
"Setelah mempelajari semua agama, dan banyak kerabat di daerah lain yang memeluk Hindu, akhirnya kami juga memutuskan untuk masuk agama ini. Di sisi lain, karena adat dan budayanya juga mirip dengan kepercayaan kami sebelumnya," terangnya.
Kerukunan umat beragama di Kecamatan Halong semakin mantap dengan adanya dukungan dan peran dari pemerintah setempat. Dukungan pemerintah yaitu berupa bantuan saat peringatan hari besar keagamaan, memfasilitasi aruh (selamatan) adat hingga membangunkan rumah ibadah.
Semua tokoh agama serta masyarakatnya bangga dengan tingginya toleransi umat beragam di Halong yang hidup rukun berdampingan meskipun beda keyakinan.
"Kami sepakat, toleransi umat beragama di Halong merupakan contoh yang paling baik," ujar tokoh agama Budha, Ponidi.

0 komentar:

Posting Komentar