Mengunjungi Miniatur Indonesia, Kecamatan Halong Kabupaten Balangan
Umat Lima Agama Hidup Rukun Sejak Puluhan Tahun
Kecamatan
Halong Kabupaten Balangan di kalangan masyarakat luas dikenal sebagai
miniatur Indonesia, karena memiliki pesona yang luar biasa.
WAHYUDI, Halong.
KEBERAGAMAN
masyarakat dari suku dan agama berbeda yang bermukim di Kecamatan
Halong sejak lama, menjadi salah satu alasan dikenalnya Halong sebagai
miniatur Indonesia.
Berjarak
sekitar 45 KM dari ibukota Balangan, Paringin Kota, dengan kondisi
jalan yang mulus, untuk mencapai Kecamatan Halong hanya diperlukan waktu
kurang dari satu jam.
Setidaknya
ada lima umat beragama yang hidup berdampingan, rukun dan saling
membantu di kecamatan yang memiliki penduduk terbanyak dibanding
kecamatan lainnya di Balangan tersebut, di antaranya yaitu Islam,
Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Budha.
Kehidupan
Umat beragama di Halong sangat rukun dan terbina dengan baik sejak
puluhan tahun silam, kerukunan itu tersirat dalam kehidupan sehari-hari
serta terpola dalam sistem sosial budaya masyarakatnya.
Hal
itu diyakini terjalin karena masyarakat Halong mempunyai ikatan suku
yang kuat juga karena memiliki latar belakang historis serta garis
keturunan yang sama.
Menariknya,
setiap desa di Kecamatan Halong didominasi oleh umat beragama tertentu,
seperti Desa Kapul yang mendominasi adalah agama Budha, Desa Liyu
penduduknya merupakan pemeluk agama Hindu, Desa Halong mayoritas Islam
sedangkan Katolik dan Protestan yang merupakan umat minoritas dapat
ditemui di beberapa desa.
Pendeta
GKE Protestan Halong, Damayanto mengungkapkan, meskipun merupakan
minoritas, namun pihaknya tidak pernah merasa dikucilkan oleh umat
beragama yang lainnya.
"Ini
sudah terjalin selama puluhan tahun. Toleransi umat beragama di sini
sangat baik, sejauh ini tidak ada masalah sama sekali yang berkaitan
dengan agama," ujarnya.
Berdasarkan
keterangan dari masyarakat sekitar, masuknya masing-masing agama dengan
metode dan tahun yang berbeda. Agama Islam sendiri merupakan agama
tertua yang masuk di kecamatan daerah lereng Meratus ini, kemudian
disusul Kristen Protestan sekitar tahun 1930, Katolik pada sekitar tahun
1980-an dan Budha yang mulai berkembang pesat di tahun 1986 setelah
dibangun Vihara Damasekha di Desa Kapul.
Menurut
salah satu tokoh agama Hindu, Riansyah, Hindu merupakan agama termuda
yang masuk di Halong, yaitu sekitar tahun 1994. Bahkan rumah ibadahnya
pun baru dibangun pada tahun 2000, yakni Pura Jagatnatha Berjalin Jaya.
Masuknya
agama Hindu kata dia berawal dari pembuatan Kartu Tanda Penduduk karena
harus mencantumkan agama, sementara selama ini dia dan warga lainnya
tidak mengenal agama dan hanya memiliki kepercayaan yaitu Kaharingan.
"Setelah
mempelajari semua agama, dan banyak kerabat di daerah lain yang memeluk
Hindu, akhirnya kami juga memutuskan untuk masuk agama ini. Di sisi
lain, karena adat dan budayanya juga mirip dengan kepercayaan kami
sebelumnya," terangnya.
Kerukunan
umat beragama di Kecamatan Halong semakin mantap dengan adanya dukungan
dan peran dari pemerintah setempat. Dukungan pemerintah yaitu berupa
bantuan saat peringatan hari besar keagamaan, memfasilitasi aruh
(selamatan) adat hingga membangunkan rumah ibadah.
Semua
tokoh agama serta masyarakatnya bangga dengan tingginya toleransi umat
beragam di Halong yang hidup rukun berdampingan meskipun beda keyakinan.
"Kami sepakat, toleransi umat beragama di Halong merupakan contoh yang paling baik," ujar tokoh agama Budha, Ponidi.














